Usai matang, bratwurst yang masih mengeluarkan uap panas didinginkan terlebih dahulu menggunakan blower selama sekitar 15 menit hingga suhunya turun menjadi sekitar 35 derajat Celsius.
Tahapan berikutnya adalah pemotongan. Sosis yang masih berbentuk panjang dipotong secara otomatis menjadi ukuran siap jual menggunakan mesin cutting.
Setelah itu, bratwurst masuk ke proses pengemasan menggunakan metode thermoforming dan vacuum sealing. Dengan bantuan panas, wadah plastik dicetak secara otomatis, kemudian udara di dalam kemasan disedot hingga benar-benar kedap.
Teknologi vacuum sealing membantu menghambat pertumbuhan bakteri sehingga produk dapat bertahan hingga enam bulan apabila disimpan pada suhu minus 20 derajat Celsius, tanpa harus mengandalkan pengawet buatan.
Baca Juga: Wisata Dusun Kuliner Kota Batu, Surga Kuliner Tradisional dan Spot Foto Estetik di Kaki Gunung
Meski sebenarnya sudah matang setelah keluar dari pabrik, bratwurst mozarella tetap disarankan dipanaskan kembali sebelum dikonsumsi agar cita rasanya lebih maksimal.
Di Indonesia, sosis sering diolah dengan cara digoreng. Sementara di Jerman, bratwurst lebih umum dinikmati dengan cara dipanggang atau ditumis di atas wajan. Dalam bahasa Jerman, teknik memanggang atau menggoreng tersebut dikenal dengan istilah braten, yang menjadi asal mula nama bratwurst.
Secara tradisional, bratwurst dibuat dari daging babi atau sapi. Namun, versi yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan halal sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat Muslim. Rempah-rempah yang digunakan pun telah disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia.
Selain memiliki rasa gurih dengan isian keju mozarella yang lumer, bratwurst juga menjadi sumber protein yang cukup tinggi. Dalam informasi yang disampaikan produsen, mengonsumsi dua potong bratwurst mampu memenuhi sekitar 33 persen kebutuhan protein harian, sehingga cocok dijadikan menu praktis maupun pelengkap berbagai hidangan.
source : youtube EDUTAINMENT TRANS7 OFFICIAL